“Minggir, Anak cacat! Kursi rodamu
menghalangi jalan!”
Aku terkesiap. Bukan karena ia menyeruku
dengan panggilan ‘anak cacat’, tapi karena rintik gerimis sempat membawa
bayangku mengawang. Kutepikan kursi rodaku sedikit, tak acuh ketika gerimis
hujan menyemai basah pada seragam putih abu-abuku. Arya melengos begitu mata
kami sempat bertautan, ia melangkah cepat diikuti dua sahabat kental yang
selalu mengikutinya kemana saja.
Sesal tak pernah berkerumun dalam dada sejak
kuputuskan untuk bersekolah di sekolah umum ‘biasa’. Aku takut apabila aku
bersekolah di Sekolah Luar Biasa, hal itu malah membuatku semakin ingat bahwa
aku cacat. Aku tidak ingin meski pada akhirnya di sekolah ini aku tidak
diterima begitu baik. Seperti Arya, ia tak pernah menyukaiku.
Bohong jika kata-kata yang selama ini
dilontarkannya padaku, tak pernah melukai. Sakit, memang, tapi aku tak ingin
membencinya. Benci hanya akan membuatku semakin terlihat buruk. Aku cacat dan
tak ingin membuat hati sama cacatnya dengan fisikku.
Kulempar kembali pandangan pada gerimis
yang telah menjadi hujan. Aku menyukainya. Tiba-tiba bel berbunyi, terpaksa
kudorong kursi roda menuju ke ruang kelas.
***
“Aw!” Jeritan itu terdengar tepat setelah
kursi rodaku, secara tak sengaja, menabrak kaki Arya ketika kami akan keluar
kelas untuk pulang. Dadaku seakan berjingkat.
“He, Sita cacat! Kamu sengaja melakukannya,
ya?” Arya membentakku.
“M-maafkan aku! Aku benar-be-“
“Kamu sengaja, kan? Kamu pasti mau balas
dendam sama aku!”
“Eh, Sit! Kalau pakai kursi roda
hati-hati, dong!” Sarah, salah satu
sahabat Arya ini tak membuat keadaan menjadi lebih baik. Ia mendorong bahuku
hingga berkali-kali membentur kursi roda.
“Dia pasti gak terima karena kita
panggil cacat, Ar!” Vina mendorong kepalaku ke belakang hingga membentur pintu
ruang kelas di belakangku. Aku mengernyit kesakitan.
Teman-teman kami sebagian sudah lebih
dulu meninggalkan kelas begitu bel pulang berbunyi. Hanya beberapa yang masih
ada di dalam kelas. Tak berani keluar karena kami tepat berada di pintu kelas,
pun tak ada yang berusaha menolongku. Air mata serasa menggenang di ujung mata,
mati-matian aku menahan. Setelah kata ‘cacat’, aku tidak ingin menambah kata
‘cengeng’ dalam daftar ejekan mereka.
Mereka memang tak melakukan seperti yang
dilakukan Arya dan sahabat-sahabatnya padaku. Namun, melihat pem-bully-an di depan mata, tapi hanya diam,
bagiku itu sama saja. Mereka tak ada bedanya. Tidak bisakah mereka mencoba
menolongku? Tak tahukah mereka hatiku sakit sekali setiap kali Arya melontariku
dengan ejekan-ejekannya? Apa karena aku orang cacat? Tak pantaskah aku menerima
pertolongan mereka?
“Hei, jawab!” Arya mendorong kursi
rodaku.
“Ada apa ini?” Suara guru Biologi yang
tiba-tiba muncul di depan pintu, membuatku lega. Sedikit lagi, aku merasa air
mataku akan tumpah. Tepat setelah pertanyaan itu berakhir, semua murid yang ada
di dalam kelas berhamburan keluar, tak terkecuali aku. Sempat kutangkap tatapan
tajam Arya sebelum ia menghilang dari belokan.
***
“Urusan kita kemarin belum selesai!”
Istirahat siang yang kuharap akan berlangsung damai, pupus sudah.
Arya mencegatku tepat setelah guru Agama
kami keluar kelas. Aku menghela napas tertahan. Aku sedikit menyesali hujan
yang hanya bisa kutatap dari jendela kelas. Sarah dan Vina sudah berdiri di
kanan kiriku. Aku pasrah saja dengan apa yang akan mereka lakukan padaku.
Teman-teman langsung berhamburan keluar. Tak berniatkah mereka menolong?
“Sepertinya aku harus-“ Kata-kata Arya
terpotong oleh bunyi dering telepon genggamnya. Ia buru-buru mengangkat
panggilan telepon itu. Ia terlihat biasa saja sampai beberapa detik kemudian,
wajahnya berubah pucat. “Rendy ...” Usai menyebutkan nama itu, ia berlari ke luar
kelas dengan air mata menganak sungai di wajahnya.
Sarah dan Vina hanya berpandangan sambil
mengangkat bahu. Satu yang kutahu, Rendy adalah nama adiknya Arya. Aku
seringkali mendengar betapa Arya sangat menyayangi adiknya yang baru berusia
tujuh tahun itu. Di hari ulang tahun adiknya, Arya bahkan menabung untuk bisa
membelikannya mobil-mobilan. Aku tak pernah menyangka Arya yang selama ini
berlaku jahat padaku, bisa berubah sedrastis itu jika berurusan dengan adiknya.
Mungkin kenyataan itu yang selama ini tak mampu membuatku benar-benar
membencinya. Bahwa masih ada sisi baik darinya yang diam-diam kuharapkan.
“Kenapa Rendy?” Sarah menyokong dagunya
dengan telapak tangan kanan.
“Entahlah, aku tidak tahu dan tidak
peduli.” Vina meregangkan tubuhnya. “Ah, aku merasa lega hari ini. Setidaknya,
kita tak perlu mengikutinya terus hari ini. Aku lelah berteman dengannya.” Aku
hampir tersedak ludahku sendiri mendengar mereka berdua berbicara seakan tak
ada aku di sini.
“Yah, yang ada di kepalanya hanya Rendy,
Rendy, dan Rendy. Untung dia punya uang untuk mentraktir kita makan.” Sarah
menimpali.
Telingaku terasa panas. Aku memandang
mereka nanar. Seperti inikah sosok sahabat yang sebenarnya? Aku bukan Arya,
tapi aku tahu jika Arya mendengarnya, ia akan merasa sangat sakit. Mendadak,
muncul rasa iba entah darimana, menelusup dalam dadaku.
***
Tiga hari Arya tidak masuk sekolah.
Antara merasa lega atau khawatir, aku terus bertanya-tanya keadaan adiknya
hingga mampu membuat Arya meninggalkan kelas tiga hari beruntun. Kemana dia?
Ah, sejak kapan aku merasa seperti ini untuknya? Bukankah aku malah senang aku
tidak akan dibully lagi? Aku menggelengkan
kepala cepat. Hujan tidak turun tiga hari ini, seakan ikut terenggut bersama
Arya.
***
Hari keempat, Arya masuk sekolah dengan
wajah lesu. Kantung mata jelas terlihat menggenangi wajahnya. Ia tidak bicara
dengan siapapun, ia bahkan tak memandangku sama sekali. Ini terus berlanjut
hingga sebulan lamanya dan aku mulai merasa aku merindukannya yang dulu,
maksudku ia yang selalu ceria. Ada apa dengan Rendy?
Pun ia tak lagi mengusikku, bahkan
ketika aku diganggu Sarah dan Vina, ia selalu berpura-pura sedang lewat dan
mencari-cari alasan agar aku pergi dari sana. Ia memang mengatakan aku
menghalangi jalan, tapi aku tahu ia berusaha menyelamatkanku. Setelah semua
yang telah terjadi, mengapa?
Suatu hari aku menemukannya duduk
sendirian di taman belakang sekolah, aku mendekatinya paksa meski kakiku yang
terkena polio, sedikit gemetar, jantungku berdebar. Ia menyadariku, namun tak
mengatakan apapun.
“Rendy kecelakaan,” Ia memecah
keheningan lama dengan suaranya yang terdengar mencicit. Aku tahu ada luka dalam
kata-katanya, “ia... lumpuh.” Arya mulai sesenggukan.
Jantungku terasa ngilu mendengarnya.
Ada. Ada luka yang juga mekar di hatiku saat mendengar tangisnya. Durja sarat
memenuhi wajah dan air matanya yang menjadi bukti betapa ia terluka. Pun,
bibirku terkatup rapat ketika percakapan Sarah dan Vina bulan lalu mengapung kembali di ingatan. Ia akan lebih hancur dari ini jika
mengetahuinya.
Aku mencoba mengelus punggungnya dan ia
malah memelukku. Berulang kali ia mengatakan kata maaf yang terdengar tulus dan
penuh sesal. Tidak, aku tidak membencinya, bagiku kesalahan yang disesali lebih
berharga daripada ejekannya selama ini. Aku tahu setelah ini kurasa ia akan
menjadi sahabat yang spesial untukku.
Dan gerimis tiba-tiba turun, kemudian
menjadi hujan.***
Jogjakarta, 15 Februari 2015
Wah, kalau ini cerpen baru nih, eh gak ding, masih tiga tahun lalu. Cerpen ini juga alhamdulillah meraih juara 1 dalam lomba cerpen yang diselenggarakan oleh penerbit Gemamedia Wonosobo. Aku lupa juga ada sertifikatnya atau tidak, yang jelas aku punya bukunya. Aku sendiri waktu itu tidak menyangka namaku berada di urutan pertama dari daftar 750 peserta.
Alhamdulillah, selamanya, usaha tidak akan pernah menghianati. Oiya, waktu ini juga aku menggunakan nama pena Den Raana hehe.

No comments:
Post a Comment