Srak!
Aku tertegun. Baru saja aku melihat sesuatu melintas
dengan cepat dari pantulan kaca. Sinar matahari berhasil membiaskan pandangan,
tak mengizinkanku menelaahnya baik-baik.
Kucoba mengais sisa-sisa pergerakannya, tapi nihil.
Burung? Aku menyangsikannya. Benda itu jauh lebih besar dari seekor burung. Aku
mencoba menyerah terhadap segala dugaan, tapi netra tak bisa lepas dari posisi
lenyapnya. Ketika tersadar, kutemukan diri mematung di depan sebuah ruangan di
ujung lorong, ruangan terakhir untuk menemukan ‘burung’ itu.
Aku tersentak mendapati suara yang terdengar halus dan
bergetar. Tak butuh waktu lama untukku menemukan seorang wanita paruh baya
dengan uban hampir menyelubungi seluruh kepalanya. Mulutku terbuka, tapi tak
mampu bicara. Akhirnya, hanya anggukan kepala yang mewakili jawabanku.
***
Esoknya, aku tak bisa menahan diri untuk tidak pergi ke
ruangan ini lagi. Ruangan dengan tulisan ‘Perpustakaan’ di atas kayu lapuk,
menggantung di pintunya.
Aku tidak menemukan wanita paruh baya yang kemarin
menyapaku. Kakiku melangkah masuk, menjejali mata dengan rak-rak kayu yang
terlihat tua dengan buku-buku yang berjejer rapi. Sebuah pemandangan yang
sedikit aneh mengingat betapa tuanya perpustakaan ini, namun hanya sedikit debu
yang menghuni.
Ruangan ini sepi. Seakan hanya ada aku di sini. Mataku menangkap
sebuah judul buku yang menarik, ‘Phoenix’. Aku terkejut ketika sebuah tangan
lain juga mencoba meraih buku itu. Aku menoleh, beradu pandang dengannya. Seorang
laki-laki yang cukup jangkung dengan mata hitam legam, mengingatkanku pada mata
boneka panda di kamar. Aku menahan napas ketika tatapan tajamnya membuat
jantungku berdebar. Kukira hanya ada aku di sini.
“Kau mau membaca buku ini?” Ia mengambil buku berjudul
‘Phoenix’ itu dan menyerahkannya padaku. Aku menerimanya dengan gagu.
“Baguslah, kalau begitu aku akan membaca ini dulu.” Ia mengatakannya sambil
mengambil buku ‘Sejarah Perpustakaan’.
“Lagi-lagi buku itu? Sudah berapa kali kau membacanya,
Arka?”
Aku dibuat tersentak untuk kesekian kali, wanita paruh
baya yang kemarin, kini telah berada di sampingku. Wanita itu kemudian mengalihkan
pandangan dari cowok yang dipanggilnya Arka, padaku. Ia tersenyum, membuatku
gugup.
“Aku ingin menjadi pustakawan, jadi aku harus sering
membacanya, Bu,” Arka mengedikkan bahu, “ Zenodotus dari Ephesus sudah merebut
gelar pustakawan pertama di dunia, dariku, jadi aku harus bisa lebih hebat
darinya.” Arka tersenyum kali ini. Aku hanya memandangi keduanya, mereka
berbicara seperti dua orang teman lama.
Wanita itu terkekeh, tak mempedulikan ucapan Arka. “Nah,
jadi siapa namamu, Nak?”
“Saya?” Aku
memastikan diri. “Nama saya Irine.”
“Wah, namamu sama dengan tokoh wanita dalam serial
Sherlock Holmes, wanita yang mampu mengimbangi kecerdasan Sherlock Holmes,
Irine Adler.” Arka terlihat antusias. Jelas sekali ia memiliki pengetahuan yang
luas, membuatku diam-diam mengaguminya.
***
Aku jadi lebih sering bertemu dengan Arka. Dimanapun, ia
seolah selalu tertangkap dalam mataku. Meski dalam kerumunan, aku selalu bisa
menemukannya. Ia selalu menyapa ketika berpapasan denganku, menjadikannya teman
pertamaku di sekolah ini. Aku bukan murid pindahan baru, sudah sekitar lima
bulan aku di sini, tapi aku tak merasa benar-benar memiliki seorang teman. Apakah
semua karena kemampuan bersosialisasiku yang buruk?
“Kau menyukainya?” Pertanyaan itu tiba-tiba menusuk
gendang telinga, membuatku kalang kabut dalam diam. Aku memandang wanita paruh
baya penjaga perpustakaan sekolah, yang baru-baru ini kuketahui bernama Bu
Rhea. Aku gelagapan tanpa alasan, mengayuh otak sesegera mungkin untuk
menjabarkan kata. Pertanyaan itu berhasil membuatku merasa kacau.
“Bu-bukan begi—“
“Perpustakaan memang mengagumkan, kau bisa menemukan
banyak ilmu di sini,” Bu Rhea melanjutkan, membuatku merasa konyol karena salah
menangkap maksud pertanyaannya. “Seolah kau sedang mengelilingi dunia hanya
dengan duduk, merengkuh cakrawala hanya dengan melihat, dan mengetuk empati
hanya dengan membaca.” Bu Rhea menerawang, membuatku dapat melihat jelas
kerutan di bawah mata, tanda betapa waktu telah menuakannya.
Aku masih terdiam, menunggu Bu Rhea melanjutkan kata-katanya.
Mendengarkan selalu membuatku lebih nyaman dibandingkan berbicara. Aku memang
tak pandai bicara. Pun, pepatah selalu mengatakan bahwa lidah adalah benda
paling tajam di dunia, membuatku ngeri. Berapa banyak orang yang telah
tersakiti oleh kata-kataku? Lalu pertanyaan itu membuatku bungkam.
“Seperti pengetahuan mengenai burung ini,” Bu Rhea
tiba-tiba menunjuk buku yang kupinjam, ‘Phoenix’. “Phoenix dipercaya hidup di daratan Persia,
hidup dengan membakar dirinya, kemudian dari abunya muncul Phoenix muda,
seperti reinkarnasi, seakan Phoenix adalah burung yang abadi, dan memang begitulah
mitosnya.”
Kata-kata Bu Rhea
mengingatkanku pada sesuatu yang kuanggap ‘burung’ beberapa waktu lalu. Aku
masih belum mendapatkan titik terang dalam hal itu. Ataukah itu hanya ilusi?
“Kurasa, ini satu-satunya buku yang belum dibacanya.”
Aku mengerutkan kening mendengar perkataan Bu Rhea.
“Maksud Ibu?”
“Arka. Coba kau periksa semua kertas peminjaman di balik
setiap buku di perpustakaan ini. Di sana akan selalu ada namanya, kecuali di
buku ini.”
Aku melongo. Bu Rhea tidak terlihat kaget dengan
reaksiku. Arka telah membaca hampir semua buku di perpustakaan ini? Segigih
itukah ia ingin menjadi seorang pustakawan? Apakah menjadi seorang pustakawan
berarti harus membaca seluruh buku yang ada? Dia gila.
“Dia selalu bisa mengejutkanku.” Aku tersenyum, begitu
juga Bu Rhea. “Dia teman pertamaku di sini, maksudku selama lebih dari lima
bulan di sini, aku sulit bersosialisasi, ataukah aku yang membatasi diri?” Aku
tergelak sendiri.
“Kalau begitu mari kita bersahabat. Jika Arka adalah
teman pertamamu, jadikan aku sahabat pertamamu.” Bu Rhea mengulurkan jari
kelingkingnya. Aku menatap jari kelingking itu dengan ragu. Dalam benakku,
terjuntai banyak pertanyaan yang tak dapat kusebutkan. “Apakah anak muda
sekarang hanya bersahabat dengan anak seusianya? Umurku memang telah beranjak
53 tahun, tapi jiwaku belum setua itu. Arka sudah menjadi sahabatku, mengapa
kamu tidak?”
Ah, Arka lagi. Ia selalu selangkah di depanku. Aku
mengulurkan tangan, mengaitkan kelingkingku dan kelingking Bu Rhea. “Tapi, saya
rasa ini persahabatan yang singkat. Dua hari lagi, saya akan pindah.”
***
Dua hari, waktu yang begitu singkat. Tak cukup untuk
membuatku menemukan Arka. Aku tak lagi berpapasan atau menangkap sosoknya dalam
kerumunan. Ia seakan hilang begitu saja. Ah, apakah aku harus pergi tanpa bisa
melihat sosoknya untuk terakhir kali? Sampai saat terakhir aku mengais
bayangnya, tak kutemu. Aku menyerah. Kugenggam erat buku ‘Phoenix’, lalu
melangkah menuju perpustakaan untuk mengembalikannya. Selamat tinggal, Arka.
***
Aku duduk di dalam mobil dengan perasaan yang tak dapat
diterjemahkan. Bahkan, ketika mobil mulai melaju, hatiku masih terasa berat
meninggalkan sekolah ini. Mungkin aku hanya berteman dengan Arka dan bersahabat
dengan Bu Rhea, tapi mereka mengajarkanku banyak hal. Belum jauh, tapi aku
sudah merindui perpustakaan tua itu. Tempatku pertama kali bertemu dengan Arka
dan Bu Rhea, memperoleh pengetahuan-pengetahuan baru dari mereka. Pun, sampai
akhir aku tak pernah tahu ‘burung’ yang kulihat saat itu.
Ah, mungkin di sekolahku yang baru, tempat pertama yang
akan kukunjungi adalah perpustakaan. Mungkin di sana tidak ada Arka dan Bu
Rhea, tapi dari sana aku bisa menjelajah dunia tanpa bergeming. Arka, akankah
suatu saat ia benar-benar akan menjadi seorang pustakawan? Aku harap, ia takkan
pernah menyerah pada mimpi dan segala kegilaannya, aku pun merinduinnya.
Tanpa sadar, air mataku menetes. Sungguh, untuk pertama
kali aku merasa sangat berat meninggalkan sekolah. Meski sudah berulangkali aku
berpindah sekolah, tapi kali ini terasa paling menyesakkan. Aku meremas rok abu-abuku, menahan
rasa yang membuncah dalam dada. Memang benar, takkan pernah ada orang yang
terbiasa dengan kehilangan.
Srak!
Aku terperangah, seakan sesuatu terbang membelah udara. Sayap, tangannya
serupa sayap yang mengepak membelakangi matahari, nampak seperti Phoenix yang
bercahaya. Persis seperti saat kulihat dari kaca waktu itu, sesuatu yang seolah
terbang.
Ayah mengerem mobil dengan sigap, membuatku hampir
terjungkal. ‘Burung’ itu mendarat di depan mobil, bergulingan. Buru-buru aku
menghambur keluar.
“Arka?” Aku memandangnya tak percaya. Ia tersenyum sambil
mengusap kepala, meski luka jelas menempel di sekujur tubuh. Kulihat papan skateboard tergeletak di sampingnya.
“Apa yang kau lakukan? Kau melompat dengan papan skateboard dari atas? Kau sudah gila?”
“Ya, aku sudah gila.” Ia berdiri, sedikit kepayahan. “Dan pengecut, malah menghilang dari pandanganmu setelah tahu
kau akan segera pindah. Aku juga bodoh, menuruti egoku untuk tak bertemu
denganmu, tapi aku tak bisa.” Ia mengangkat secarik kertas yang terlihat lusuh.
Jantungku berdegup kencang. Itu surat yang kuselipkan di buku ‘Phoenix’,
sebelum kukembalikan.
“Ah, itu...” Kulirik ayah yang masih diam di balik
kemudi, memberi ruang untuk kami.
“Kita tidak tahu apakah suatu saat, kita bisa bertemu
lagi atau tidak, tapi...” Ia memungut papan
skateboard-nya, ”selama kita tak menyerah pada keyakinan bahwa suatu hari
kita akan betemu, kita pasti bertemu. Aku pun percaya pada hal yang kuyakini
bahwa aku tidak akan pernah melepaskan hal yang berharga bagiku; menjadi
pustakawan dan kamu, Irine.” Ia mengatakannya dengan mata yang tulus, membuat
air mataku mengalir.
“Jadilah pustakawan hebat dan biarkan takdir menuntun
kita. Aku takkan pernah menyerah pada hal yang kuyakini.” Aku mengulang kata-kata
yang kutulis dalam surat itu. Ia mengangguk puas.
Sebelum pergi, aku
menatapnya untuk terakhir kali. Aku
menemukanmu, Burung Phoenix. ***
Wah, ini adalah salah satu cerpen favoritku sebenarnya. Tidak ada yang istimewa sih selain ada unsur mitosnya. Mengenai Burung Phoenix. Aku selalu suka hal-hal berbau mitos, sejarah yang kemudian dijadikan certa fiktif. Jadi, greget gitu entah mengapa.
Ini juga cerpen lomba kok, kalau tidak salah juga dibukukan, tapi aku tidak punya catatanya aku lupa mencatatnya di mana. Aku hanya ingin posting saja sih, semoga para pembaca menyukainya!

No comments:
Post a Comment