Reinkarnasi?
Bisakah sebuah cerita dongeng seperti reinkarnasi dipercaya? Bahwa setiap orang
akan dilahirkan kembali dalam wujud yang berbeda setelah kematiannya? Bisakah?
“Radit,…
jika, hanya jika… kau dihidupkan kembali, kau ingin menjadi seperti apa?” Erza
menatapku dengan mata berbinar, seulas senyum berebut memenuhi bibirnya. Deg.
Senyum yang biasanya selalu berhasil memorak-porandakan perasaanku itu,
mendadak membuat kalut.
“Maksudmu?”
Kulemparkan kembali sebuah tanya. Ia tergelak, entah karena ekspresiku yang
mungkin terlihat bodoh atau justru memakiku dalam tawa.
Ia
masih tertawa hingga beberapa saat kemudian, terdiam. “Kalau aku, aku… mungkin
memilih untuk dilahirkan tidak sempurna.”
“Jangan
mengatakan hal yang tidak-tidak, kau tidak pernah bersyukur dengan keadaanmu
sekarang? Kau yang kini seorang mahasiswi teknik sipil dengan masa depan cerah,
orang tua kaya, dan tubuh yang sempurna, apa yang ingin coba kau buktikan? Kau
tidak tahu bagaimana rasanya menjadi orang cacat sepertiku yang hanya bisa
berjalan menggunakan kursi roda…” Tanpa sadar, aku malah seperti menceramahinya
panjang lebar. Kubekap mulut lewat rahang yang mengatup cepat. Kukira, ia akan
merasa kesal, tapi lagi-lagi yang kutemukan berikutnya adalah sebuah senyuman.
Aku
tidak mengerti apa itu reinkarnasi dan bagaimana hal itu bisa terjadi. Selama
aku belum merasakannya, aku tidak akan pernah mempercayainya. Erza masih
menatapku, lalu meredupkan pandangan. Aku tersentak ketika tiba-tiba ia, lenyap
dari kedipan netra.
***
“Erza!”
Kutemukan diri duduk di atas ranjang tempat tidur. Satu detik, dua detik,
hingga beberapa menit berlalu aku masih tak mampu menerjemahkan yang telah
terjadi. Sesaat yang lalu, aku bersama dengan… Erza?
Hanya
mimpi? Aku berkutat dalam pikiranku sendiri. Mimpi? Semuanya terasa begitu
nyata, hingga rasa kehilangannya pun masih membuatku larut dalam duka.
“Tunggu,…
Erza?” kubertanya pada diri sendiri. “Siapa itu Erza? Radit? Dan sejak kapan
namaku berubah menjadi Radit?” Kukucek kedua mata, menarik napas, dan
mengembuskannya perlahan. Hanya mimpi. Mimpi bisa merubah nama, tempat, bahkan
mungkin jenis kelamin. Ya, hanya mimpi, meski terasa nyata, mimpi memang bisa
terasa sangat nyata. Aku terus mencoba meyakinkan diriku sendiri, meski
kegalauan kemudian menyelimuti.
***
Hari
ini adalah jadwalku untuk pergi ke Museum Batik Yogyakarta demi tugas makalah
yang diberikan dosen mata kuliah Dasar-Dasar Ilmu Budaya. Baru saja kuintip
dari jendela, seorang wanita berumur sekitar tiga puluhan, keluar dengan senyum
terpatri di wajah.
“Museum
Batik?” Aku mencoba memastikan karena bangunannya sudah terlihat tua, bahkan
aku kesulitan mencari letak museum ini. Wanita itu mengangguk, mengantarku ke
meja yang cukup panjang.
“Untuk
tugas?” Aku mengangguk pasrah, wanita itu terlihat mencatat sesuatu di buku,
lalu mengajakku berkeliling museum. “Oh ya, saya Ririn, salah satu pemandu di
sini,” Ia memperkenalkan diri singkat, kemudian mulai menjelaskan batik mulai
dari alat-alat, cara membuatnya, dan entah apa lagi karena aku justru terfokus
menelanjangi motif-motif batik yang berderet di sepanjang ruangan.
Aku tahu wanita itu mencoba memberikan
informasi yang mungkin kuperlukan untuk pengerjaan tugas, namun perasaanku
seperti tersedot masuk ke dalam setiap motif batik. Aku begitu menikmatinya,
hingga sebuah motif begitu menarik perhatian. Motifnya sederhana, tidak ada
yang spesial darinya. Hanya bulatan-bulatan lonjong seperti beton[1] yang bersilangan, lalu dua
tanda silang kecil yang mengisi ruang kosong pada motif itu. Sederhana. Tapi,
mengapa motif ini mampu menarik paksa memori mengenai mimpi semalam?
“Kau
tertarik pada motif itu?” Sebuah suara yang sedikit serak, membawaku berpijak
kembali. Aku menoleh dan kutemukan seorang wanita paruh baya, mendorong sebuah
kursi roda. Jantungku tiba-tiba berdegup. Bu Ririn yang juga melihat kedatangan
wanita itu langsung membungkukkan sedikit badannya. Wanita itu hanya mengangkat
tangan, memberi tanda agar Bu Ririn meninggalkan kami.
Aku
merasa tak asing dengan wanita ini, tapi siapa? “Anda…”
“Motif
ini disebut motif Kawung Beton. Sesuai dengan bentuknya yang menyerupai biji
buah nangka, ya?” Wanita itu tergelak kecil. Tawa yang juga terasa familiar.
“Motif ini merupakan satu dari tujuh motif larangan. Apakah kau tahu apa itu
motif larangan?” Aku hanya menggeleng dungu. “Motif larangan itu motif yang
hanya dipakai oleh keluarga kerajaan di zaman dahulu, lain tidak. Rakyat biasa
seperti kita tidak boleh menggunakan motif ini. Hebat, bukan? Ini adalah motif
kesukaanku.”
Sebuah
perasaan berhasil mengusik hingga dengan lancangnya, pertanyaan itu terlepas
dari tenggorokan. “Nama Anda?”
Wanita
itu tertawa kecil. Lagi. Benar-benar membuatku semakin penasaran. “Benar juga,
aku belum memperkenalkan diri, namaku Erza,” DEG. Degup jantungku kembali
mengambil alih napas yang memburu. Erza? Oh tidak, mengapa nama itu? Apakah ini
semua hanya halusinasi?
“Er-za?”
Kueja namanya pelan, memastikan pendengaran.
“Hei,
aku mungkin 30 tahun lebih tua darimu, panggillah dengan lebih sopan. Dasar
anak muda zaman sekarang.” Ia tergelak. Sepertinya ia tak pernah bisa lepas
dari tawa. Bukannya merasa tersinggung, aku malah memerhatikan kakinya yang
hanya sampai lutut. Diam-diam, aku merasa iba. “dan namamu, Nak?” Pertanyaan
itu berhasil mencabut pandanganku dari kakinya.
“S-saya…
Tidar,” Aku menjawab gugup. Wanita itu langsung terdiam, seketika senyum raib
dari wajahnya. Setelah beberapa saat, ia kembali tersenyum, entah untuk jeda
berapa lama, setelah itu ia memutar kursi rodanya. Pergi dari hadapanku.
***
Bermalam-malam,
wajah nenek itu menggelayuti memori. Entah karena nama, atau gelak tawanya. Aku
tidak ingin, sangat tidak ingin mengatakan bahwa ini cinta. Apakah aku sudah
gila? Dia seorang nenek-nenek berusia sekitar lima puluh tahun? Cacat?
Bagaimana bisa aku menyebutnya cinta?
Tapi
sungguh, aku tak menyentuh makanan berhari-hari hingga rasanya tak ada tenaga
dalam tubuhku. Aku serasa ingin mati. Tidak juga ingin ke kampus, tidak ada waktu
yang tidak kuhabiskan untuk membayangkan kembali wajah dan memutar rekaman
tawanya yang tersimpan dalam otak. Aku mengucek rambut dengan frustasi.
Bagaimana? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
Tuhan,
tidak mungkin aku mencintai seorang nenek-nenek yang cacat, bukan? Perasaan apa
ini yang terus bersemayam dalam lubuk? Tiba-tiba aku teringat kembali pada
mimpi itu. Mungkinkah? Aku membanting tubuh ke atas tempat tidur, mengambil
segelas air dari meja, meneguknya cepat. Aku tidak bisa hanya diam, berjibaku
dengan perasaan aneh ini.
***
“Mungkinkah?”
Aku menatap lekat mata wanita tua yang bernama Erza itu. Ia Nampak tertegun di
atas kursi roda. Tanpa terbendung lagi, kuceritakan semuanya, tentang mimpi dan
mungkin perasaan bodohku padanya. Aku tidak kuat dan lebih memilih
ditertawakannya daripada menanggung perasaan yang tak wajar ini.
Itu
yang kuharapkan. Nyatanya, tidak ada seulas pun senyum terbit dari bibirnya. Ia
terdiam, hanya memandang balik dengan arti yang tak mampu kuterjemahkan. Aku
bisa merasakan gejolak dalam kepala ketika keheningan menciptakan kecanggungan
yang baru untukku. Aku merasa sangat dungu.
“Mungkin.”
Bu Erza (begitukah seharusnya aku memanggil?), menundukkan pandangan. “Ternyata
memang, reinkarnasi itu ada…” Aku sama sekali tak mengerti apa yang
dikatakannya hingga ia menceritakan mengenai pacarnya yang tiga puluh tahun
lalu meninggal ketika hendak menyebrang jalan, lalu sebuah truk menabrak
mereka. Sedangkan, ia sendiri kehilangan kedua kakinya akibat kecelakaan itu.
Sampai
sekarang, ia tak pernah menikah dengan siapapun sambil berharap suatu saat
dapat bertemu kembali dengan lelaki yang selalu dicintainya hingga saat ini,
walaupun bukan lelaki itu seutuhnya. Ia juga menceritakan bagaimana ia dan Radit,
pacarnya dulu, selalu pergi ke Museum Batik ini dan sama-sama menggemari motif
Kawung Beton yang sebelumnya mengusik rasa keingintahuanku ketika pertama kali
datang ke sini.
“Akhirnya,
walaupun bukan lagi Radit, ia bereinkarnasi menjadi kamu, Tidar…” Bu Erza
tersenyum untuk pertama kali hari ini, “dan lihatlah, kau berdiri di atas kedua
kakimu, sekarang aku mengerti hal yang kau rasakan tiga puluh tahun lalu ketika
kau duduk di kursi roda yang sama denganku seperti saat ini. Mungkin, ini
karma, tapi aku tak pernah menyesalinya…” Bu Erza menitikkan air mata, “asalkan
aku bisa melihatmu seperti ini, berdiri di atas kedua kakimu sendiri, meski
kini kau menjadi orang lain.”
Tanpa
sadar, air mataku ikut menitik mendengar semua ceritanya. Aku menghela napas berat.
Kupandangi Bu Erza dari ujung rambut yang memutih hingga kakinya yang sudah tak
utuh.
“Maukah
kau menikah denganku?” Bu Erza terlihat kaget, ia menatapku sangsi. “Aku tidak
main-main, ketika melihatmu pertama kali dan dadaku berdegup, itu bukan khayalan.
Ketika takdir menuntunku kemari dan bertemu denganmu, itu bukan mustahil. Saya
mempercayai Tuhan dan takdir. Meski sekarang kau tak memiliki kaki, atau bahkan
jika kau hanya mampu berkedip, aku tetap ingin menikahimu. Tidak peduli apakah
umur kita terpaut tiga puluh atau seratus, tolong kali ini terima aku sebagai
Tidar.” Bu Erza membekap mulutnya, namun aku tahu masih tersimpan cinta di
matanya, untuk aku, Tidar. “Terima kasih telah menungguku selama tiga puluh
tahun, mari menghabiskan waktu bersama untuk puluhan tahun berikutnya.” ***

No comments:
Post a Comment