“Delapan bulan,” kata Rina suatu hari di depan rumah. Ia
mengelus perutnya yang sudah membuncit. Aku tersenyum, bersyukur sampai saat
ini dia baik-baik saja.
Dalam setiap getaran, aku berdzikir pada-Nya untuk Rina.
Tak menggubris panjang waktu yang kulalui untuk mendoakannya. Aku merasa
berhutang budi pada wanita manis berkerudung itu, hutang seumur hidup. Hutang
yang bagaimanapun juga harus kutangkup dengan umur yang tak panjang. Berdoa
dalam setiap getar, meninggalkan lelap, merinci tasbih pada-Nya, dan
menyelipkan nama Rina. Tak pernah luput.
Detik kemudian, terdengar lantunan Surat Al Kahfi dari
mulut Rina. Begitu halus dan merdu, menambah imanku dan semoga juga imannya,
pun iman bayi dalam kandungan itu. Tubuhku bergetar memaknai ayat-ayat yang
dibacakannya, berharap pahala juga mengalir untukku yang mematri dengar.
Aku ingat sejak seminggu lalu ketika pertama kali bertemu
dengan Rina, setiap hari pula terdengar ayat-ayat itu menada syahdu, menampik
sepi sore dan malamku. Meski juga kuhitung umur tersisa, usaha terakhir menanam
asa pada si jabang bayi.
“Subhanallah,”
tasbihku saban waktu. “Lahirlah dengan selamat, tumbuhlah dengan sehat, jaga
ayah ibumu dan berbaktilah. Jangan lupakan Allah, penciptamu. Jangan sampai
turun dari-Nya laknat untukmu, berdzikirlah di setiap detak jantung, dan jangan
kau coba mengkhianati-Nya. Aku berdoa untukmu, jabang bayi, dan untuk ibumu,
Rina.” Selalu doa itu yang kulirihkan di sela tasbih. Doa yang menemani
penantian akan lahirnya si bayi.
Lama rasanya menanti bayi itu lahir. Sukmaku sarat khawatir,
menduga-duga; sampaikah umurku nanti? Atau malaikat maut terburu mencabut
nyawaku? Menanti dalam doa, menguatkan hati bahwa segala sesuatu adalah
takdir-Nya. Saat ini wajibku adalah berusaha, berdoa, dan berserah diri sambil
terus mengumamkan harap untuk bisa melihat bayi Rina kelak.
“Rina, sudah Isya’,
ayo masuk sholat jamaah!” Seorang lelaki keluar dari dalam rumah. Belakangan
kuketahui bahwa ia adalah suami Rina.
Lelaki yang wajahnya terlihat ramah itu memapah Rina
berdiri dari kursi, menuntunnya dengan sabar sebab kaki Rina yang membengkak.
Sungging senyum tampak dari wajah Rina hingga ia menghilang dari lecutan netra.
Sayup-sayup, terdengar tawa renyah dari dalam rumah, ia terlihat bahagia dan
aku lega. Selama ia tetap tersenyum, semua itu cukup bagiku.
***
Siang ini, aku kembali lagi. Bersembunyi dan diam-diam
mengamati. Rina terlihat cantik dengan balutan kerudung hijau dan gamis panjang
berawarna senada. Ia sibuk menyiram tanaman di halaman rumah.
“Sholatum
bishalalilmubiin,” Rina menyenandungkan shalawat dengan nada yang indah,
mengiringi tiap jengkal langkahnya.
Aku memang tak mengenal bagaimana sosok Rina sebelum ini
karena aku baru mengenalnya dua minggu belakangan. Tapi aku sering mendengar
seorang ustadz mengatakan bahwa orang yang baik memiliki masa lalu dan orang
yang buruk masih memiliki masa depan.
Aku setuju, tidak ada hal yang mutlak di dunia ini
kecuali Allah. Dia yang paling mutlak di alam semesta. Dia Tuhanku, Tuhan Rina,
dan seluruh makhluk di seluruh semesta. Keyakinanku ini dikarenakan selalu
terdengar lantunan tasbih dimanapun aku berada. Satu detik pun tak pernah nihil
dari lantunan memuji-Nya, menyembah-Nya, pun tiap getar sayapku selalu
tertantun tasbih untuk-Nya. Tak pernah alpa.
Aku terperanjat ketika menyadari ada katak yang melompat
mendekati Rina. Beberapa detik kemudian baru kusadari itu adalah katak yang
tempo hari coba diusir Rina dari halaman rumah. Katak itu terus mendekat dari
belakang tanpa sepengetahuan Rina. Tubuhku membeku ketika kaki Rina tanpa
sengaja menginjak katak itu, membuatnya kehilangan keseimbangan, dan
terjungkal.
“Innalillahi!” seruku.
Perut Rina membentur bibir kolam. “Aaakkhh!” suara teriakannya berhasil meluluhlantahkan perasaanku
seketika. Aku mendekat dengan cepat, tapi gagu. Tak mampu melakukan apapun
untuk menolongnya.
Detik-detik berikutnya, orang-orang berdatangan,
berbondong membawa Rina ke rumah sakit terdekat dengan sebuah becak milik
tetangga. Wajah Rina jelas memagut sakit, mencumbu pedih, tersirat dari
keringat yang mengucur deras dari dahi. Tak kutahu sebesar apa rasa sakitnya,
yang bisa kulakukan hanya berdoa.
Semua berlalu begitu cepat bahkan sebelum aku sempat menyadari
keadaan. Aku menangis dalam diam, komat-kamit mulutku bertasbih, berdzikir
pada-Nya untuk keselamatan Rina.
“Subhanallahi wa bihamdihi,
Yaa Allah tolong selatkan Rina,
tolong selamatkan bayinya, hanya kepada-Mu hamba menyembah, hanya kepada-Mu hamba
memohon pertolongan, aamiin,” doaku
tak berhenti barang sesaat.
Bayi yang kunanti, bayi yang akan menjadi penerus bangsa
dan penerus agama Allah. Aku berharap keselamatannya juga ibunya. Yaa Rabb, kasihilah mereka.
***
Di dua minggu berikutnya, aku berkutat pada penantian
yang menyesakkan. Umurku terus berkurang tiap detik, tapi resah tak juga menolak
hinggap. Satu bulan tujuh hari sudah aku hidup di pangkuan bumi, meminjam
kebaikan-Nya untuk bisa hidup di kefanaan ini. Umur yang tergolong lama untuk
seekor Capung sepertiku. Aku tak tahu kapan malaikat maut datang, tanpa permisi
dan tanpa pemberitahuan dini.
Akhirnya, kuputuskan terbang ke rumah sakit untuk
kesekian kali. Berharap kali ini aku benar-benar bisa bertemu dengan Rina.
Kususuri tiap jendela di rumah sakit, kutajamkan 30.000 lensa individu pada
mataku untuk mencari keberadaannya. Bagaimana keadaan bayinya? Selamatkah
mereka? Mengapa tak ada kabar sama sekali dari mereka? Pertanyaan-pertanyaan
itu terus menumbuh subur dalam benak. Menebar jala was-was tak berkesudahan.
Nihil. Tak kutemu Rina. Masih, kulantunkan segala doa
yang terlintas. Pada tiap detik, sayapku bergetar tiga puluh kali dan sebanyak
itu pula aku bertasbih. Tak hanya aku, segala hal yang ada di dunia bertasbih
pada-Nya. Harapanku di antara tasbih yang tak terhingga itu, Allah mendengar
tasbih dan doaku. Doa untuk Rina, sang penyelamat yang membuatku bisa hidup
hingga saat ini.
Kutampung lagi ingatan ketika aku masih menjadi nimfa di
dalam air. Butuh waktu dua tahun untukku akhirnya bisa keluar dari kepompong,
merangkak keluar dengan sayap yang basah. Tertatih, hingga akhirnya aku bisa
menyentuh daratan. Tak terhitung banyaknya predator yang berusaha memangsa. Aku
bergidik mengingat usahaku sembunyi dari ikan, menghindar dari laba-laba,
merangkak pelan, dan bersembunyi di balik dedaunan di permukaan tanah.
Sayapku yang saat itu masih baru dan basah, mengigil.
Belum mampu membuatku terbang sebagaimana mestinya seekor Capung. Di sela usaha
adaptasi itulah katak yang juga membuat Rina mengalami kejadian ini,
menemukanku. Wajah seramnya masih bisa kuingat jelas hingga membuatku kalut.
Sangat takut. Instingku berkata ia hewan yang sangat berbahaya.
Aku terseok, menghindari katak berwarna kecoklatan itu,
tapi tubuh ringkihku tak berhasil membuat jarak yang berarti. Aku menyerah saat
itu, menyerah walaupun baru kali itu aku benar-benar merasakan keindahan dunia
yang diciptakan Tuhanku. Aku putus asa, namun pertolongan-Nya datang lewat
Rina. Rina mengusir katak itu tepat sebelum predator itu memangsaku. Saat itu
aku menangis dalam diam, meski sayapku belum mampu bergetar, aku sudah
bertasbih pada-Nya. Bersyukur karena telah menyelamatkan nyawaku yang hanya
akan bertahan beberapa minggu saja, sebab umurku tak selama manusia.
Sejak itulah aku berdoa untuk Rina, terlebih setelah tahu
ia mengandung bayi yang pasti akan meneruskan dakwah agama, kalam Ilahi. Sejak
itu pula tak pernah lupa kuselipkan doa di antara tasbih. Bersama tumbuhan,
batu, dan hewan lainnya di muka bumi, kami berbondong-bondong menyebut
Asma-Nya.
Ingatan ini menamparku. Aku tidak boleh lagi menyerah,
tidak akan pernah lagi berputus asa atas rahmat-Nya. Aku menggetarkan sayap
kembali, kali ini masuk dari pintu dan memeriksa tiap inchi rumah sakit. Bau
yang menyengat langsung tercium begitu aku masuk, membuatku pening seketika.
Meski begitu, aku tetap bersikukuh mencari Rina.
Berjam-jam lamanya aku mencari. Membuat sayapku lelah.
Dimana Rina? Aku berdoa kali ini agar aku menemukannya. Tidak maslaah jika
waktuku habis untuk mencari, setidaknya aku berusaha daripada tak pernah
mencoba. Bayi itu, bagaimana keadaannya? Jika boleh, ingin kutitipkan segala
pengharapan tasbih ini padanya agar kelak ia tumbuh sholeh atau sholehah,
pengharapan yang kubeikan sebagai kado untuk kelahirannya. Hari ulang tahunnya.
“Oooeeee!”
Tangisan seorang bayi menghentakkan tubuhku.
Aku tidak tahu insting mana yang memaksaku terbang
membabi buta, mencari sumber tangisan itu.Suara tangisan itu semakin tersengar
jelas, hampir napasku habis karena ketidaksabaran untuk segera menemukannya.
“Selamat ya, Bu! Anaknya laki-laki,”
Kutatap punggung dokter yang menyerahkan seorang bayi
pada wanita berjilbab yang kurindu. Wanita itu menangis haru menggendong si
bayi, ditemani sang suami di sisinya. Mereka tertawa meski air mata terus
membanjir di pipi. Air mata yang juga mengalir di hatiku. Aku menangis dalam
sepi. Memuji-Nya tak henti. Lemas sudah sayapku karena kupaksa terbang mencari,
mungkin juga karena umurku telah habis.
Penantianku tak sia-sia. Aku berhasil melihat bayinya
lahir. Bayi Rina. Bayinya terlihat tampan. Aku menarik napas perlahan, mencoba
menetalkan napas yang tersengal, bersiap merapalkan doa-doa untuk si bayi. Bagi
Capung sepertiku, tidak akan pernah ada tahun depan. Ulang tahun adalah waktu
kelahiran.
“Jadilah anak yang sholeh, yang bisa membanggakan orang
tuamu, jadilah hamba yang taat, yang tak memancing murka Tuhanmu, jadilah
manusia yang berhati lembut dan ringan tangan seperti ibumu yang telah
meloloskanku dari maut. Aku berdoa untukmu dan untuk ibumu, Rina, serta seluruh keluarga dan keturunanmu.
Tasbihku didengar oleh-Nya, aku bisa melihatmu lahir sebelum maut menjemputku,
karena itu mintalah apapun pada-Nya. Ia takkan pernah mengecewakanmu. Aamiin.” Kututup doa-doaku sebagai kado
atas ‘ulang tahun’-nya, sebelum akhirnya tubuhku limbung, tasbihku berhenti.
***
Biar tidak melulu romance, aku selipin cerpen berbau religi ya! Cerpen ini dimuat di buku kumpulan cerpen hasil lomba yang diselenggarakan oleh Penerbit Hanami tahun 2016 lalu. Kali ini aku ingat hehe. Waduh, judul bukunya apaan yak? Ah, iya! Cerita Lilin Kepada Hanami.
Lomba ini diselenggarakan untuk memperingati hari ulang tahun Penerbit Hanami dan saat itu aku menjadi PJ dari lomba ini.

No comments:
Post a Comment