Biar
kugeluti naskah-naskah rindu
Rindu
yang buntu
“Rindu yang buntu?”
Bahu
Canisa terangkat, kaget. Cepat-cepat ditutupnya buku catatan kecil yang selalu
dibawa kemanapun ia menjejakkan langkah. Canisa melirik Adit sekilas. Adit
tergelak, ia tahu Canisa paling tidak suka jika buku catatannya dibaca oleh
siapapun, apalagi dirinya yang baru mengenal Canisa tiga bulan belakangan.
Adit
mengulurkan satu botol minuman dingin pada Canisa yang sedang duduk menikmati Telaga
Sarangan. Sengaja ia menyerahkannya dalam posisi berdiri, iseng agar Canisa
mendongak ke atas—ke arahnya—meskipun ia sendiri tahu Canisa takkan pernah
mendongak. Canisa berdiri setelah sebelumnya mengembuskan napas kesal atas
keisengan Adit.
“Sampai
kapan kau akan terus berbuat iseng padaku?” Canisa merebut botol minuman dari
tangan Adit, kemudian duduk kembali.
Adit
tersenyum kecut, tak menjawab. Ia baru mengenal gadis berkuncir kuda itu lima
bulan belakangan. Saat itu, Adit tengah memetik buah mangga dari pohon di depan
halaman rumahnya, Mangga jatuh tepat di kepala Canisa yang kebetulan sedang
lewat. Tanpa diduga, Canisa menjerit histeris dan langsung limbung, melindungi
kepalanya. Adit yang khawatir, langsung bergegas turun untuk melihat keadaan
Canisa sambil terus menggulirkan kata maaf.
Sejak
itu ia terus berusaha menemui Canisa yang merupakan tetangga barunya untuk
meminta maaf. Sedikit banyak, ia penasaran pada Canisa yang menjerit histeris
hanya karena kejatuhan Mangga. Setelah sebulan ia bersikukuh, Canisa akhirnya
menceritakan pada Adit—tetangga yang dianggapnya menjengkelkan itu—bahwa ia
mengidap fobia aneh yang disebut Anablephobia;
ketakutan untuk melihat ke atas karena merasa langit akan runtuh.
Adit
meletakkan pantatnya di samping Canisa. “Jadi, rindu apa yang buntu itu?”
Canisa melirik Adit dari sudut mata sembari terus menenggak air.
Canisa
mengatupkan botol minum dengan tutupnya. Ia tahu Adit takkan pernah berhenti
dari rasa penasaran seperti ketika menanyakan alasannya berteriak histeris kejatuhan
Mangga.
“Rindu
pada orang tuaku. Buntu karena mereka telah tiada dan rinduku akan selalu
menemui jalan buntu.” Canisa melemparkan kembali pandangan kembali ke telaga
dengan kepala yang terus menunduk, seolah telaga itu hanya ada air tanpa
langit.
***
“Ayah
meninggal ketika aku berusia tujuh tahun.” Tepat ketika Adit membuka mulut,
Canisa sudah menyahut lagi. “Kejadian WTC kau ingat? Sebelas September dua ribu
satu,” Canisa menyembunyikan genangan air mata yang mulai bercucuran. Kejadian
mengerikan itu takkan pernah bisa hilang dari ingatnya. Bergelayut memanja
sesak dan bergumul menyiangi bahagia.
Adit
bungkam, namun matanya kelabakan mencari tisu atau sejenisnya. Nihil. Bersama
para wisatawan lain, mereka bergulat dengan dingin di balik mantel hangat yang
dikenakan. Adit meneguk ludah susah payah, akhirnya ia memetik selembar daun
dan menyerahkannya dengan lugu pada Canisa. Canisa tersenyum tipis; menolak
alternatif konyol Adit.
Ia
sengaja mengajak Canisa pergi ke Telaga Sarangan untuk memberikannya waktu
menyelami masa lalu gadis bermata coklat itu. Adit berharap, ia bisa membantu
Canisa mengobati fobianya yang terasa tak masuk akal itu, tapi ia sendiri
bingung bagaimana.
Canisa
menoleh dengan mata sembab yang masih menyisakan raut manis. “Ibuku meninggal
lima bulan lalu—ya tepat saat aku pindah ke samping rumahmu dan kau jatuhi
dengan Mangga. Penyakit jantung telah merenggutnya dari hidupku.” Canisa
merapatkan jaket. “Aku tidak tahu sejak kapan fobia ini menghinggapi alam bawah
sadar, tapi setiap kali mengingat tentang Ayah, aku takut. Aku berada tepat di
samping Ayah ketika gedung itu runtuh, perabotan jatuh, bahkan beton di atas
kepala kami yang saat itu berada di lantai satu gedung WTC, berhamburan
layaknya hujan. Ayah bersusah payah menyelamatkan aku dan Ibu di tengah
kepanikan dan teriakan itu. Masih terasa olehku pelukan Ayah yang hangat
sebelum akhirnya reruntuhan itu menimbun Ayah yang lebih mengutamakan
keselamatan kami—aku dan ibu,”
Telinga
Adit terasa panas. Panas mendengar tangis Canisa dan cerita tragis itu. Ia bisa
mengerti sekarang asal ketakutan itu. Bukan tak beralasan, fobia Canisa
benar-benar berasal dari pengalaman hidup paling mengerikan yang pernah ia
tahu. Adit takkan pernah bisa membayangkan berada di posisi Canisa. Mendengar dentuman
pesawat yang menabrak gedung, merenggut jutaan nyawa, serta segala histeria
mengiba. Meminta hidupnya diselamatkan.
***
Menjelang
malam, Adit menuntun Canisa ke tepi telaga. Di sekeliling mereka, banyak
wisatawan yang menyalakan api unggun untuk menghangatkan badan, seperti nyala
lilin kecil di kejauhan. Lilin kecil yang entah bagaimana terasa hangat. Adit
membuka penutup mata Canisa.
“Aku
ingin menunjukkan padamu keindahan langit malam.” Adit berjongkok, menuruti
arah mata Canisa yang tak pernah mau terangkat.
“Adit,
aku tahu kau ingin membantuku, tapi—“
“Tidak.”
Adit menjaring mata teh Canisa yang berkilau karena pantulan sinar bulan di atas
telaga. “Jangan melihat ke atas. Lihatlah telaga ini seperti biasa.”
Meski
sedikit, Adit bis melihat mata Canisa bergerak, meski bukan ke atas, mata itu
memandang telaga yang tebentang. Canisa terperangah melihat pantulan bulan dan
bintang di atas telaga. Matanya berbinar meski hanya pantulan dari langit yang
berombak. Mata Canisa mengembun. Ia tak pernah berpikir bahwa langit bisa
dilihat tanpa harus memandang ke atas.
“Pertama
kali aku mendengar namamu, kau mengingatkanku pada bintang yang miliaran kali
lebih besar dari matahari, bintang VY Canis Majoris.” Canisa tak melepaskan
pandangan dari telaga.
“Oya,
kau pernah mengatakan padaku kau sangat suka angkasa, kan?” Canisa mengalihkan
pandangan pada Adit yang disambut anggukan sebagai jawaban.
“Aku
sangat menyukainya, langit begitu indah terutama di malam hari. Dan aku ingin
berbagi keindahan itu denganmu.” Canisa mengerutkan kening, memandang Adit. “Apa
kau pernah melihat tiang langit?” Adit mencoba mengalihkan pembicaraan. Canisa
tidak menyadari wajah Adit yang bersemu ketika ia memandangnya.
“Maksudmu? Mana mungkin langit memiliki
tiang?”
“Menurutmu,
bagaimana Tuhan menciptakan langit tanpa tiang? Menurutmu apakah langit
digantung? Mengapa ia tidak runtuh?” Canisa terdiam. Mulai mengerti arah
pembicaraan Adit. Canisa memutuskan untuk tak menjawab. Mereka dicekam
keheningan beberapa saat. Canisa menunduk, menggosokkan kedua telapak
tangannya. “Aku takkan mengatakan kau meremehkan Tuhan dengan merasa takut
bahwa langit akan runtuh. Dia ada di sana sejak dahulu kala, sejak dinosaurus
atau Homo Sapiens, tapi ia tak pernah menunjukkan bahwa ia akan retak atau
runtuh—”
“Adit,
ini tak sesederhana itu—“
“Jika
bukan aku, biarlah alam yang memaksamu mendongak suatu hari. Kau akan begitu
menikmati dan merindukan langit. Di atas langit tak ada bangunan yang akan
runtuh, Canisa. Percayalah pada Tuhan bahwa Ia tak menciptakan langit untuk
ditakuti.” Mata mereka bertautan. Canisa tak habis pikir, Adit selalu bisa
membuatnya bungkam.
Canisa
tak pernah tahu. Jauh sebelum mereka datang ke telaga, sejak Adit menjatuhkan
mangga ke kepalanya, Adit jatuh cinta padanya. Dorongan paling kuat untuknya
ingin membantu Canisa menikmati langit dan menghilangkan fobianya.
Dan Adit
tak pernah tahu, ada sesuatu yang bergejolak dalam hati Canisa sejak saat itu.
Canisa juga tak menyadarinya, yang ia mengerti adalah ia dibuat kagum oleh
kata-kata dan sikap Adit padanya. Tak pernah lebih. Mungkin, suatu saat ia akan
benar-benar kehilangan ketakutannya untuk melihat ke atas. Walaupun semua itu
masih mungkin, ia percaya, Adit atau alam sendiri yang akan menuntun matanya ke
angkasa. Suatu saat. Ia tidak tahu kapan, ia akan merindu pada telaga yang
penuh gemintang itu. Pasti.
***
Yogyakarta,
1 Juni 2016
Yak, dulu aku memang suka banget menulis cerita romance karena memang itu adalah genre favoritku dulu. Biasalah, ABG labil gitu. Ya, walaupun menye-menye, bagaimanapun juga ini adalah hasil karyaku. Aku yakin cerpen ini juga masuk ke kumpulan cerpen dari hasil lomba, namun sekali lagi aku tidak ingat penerbit apa. Buku catatanku tentang itu hilang atau di rumah. Sekarang, aku sedang kos. Jadi, aku hanya post cerita lama sekalian mengisi kekosongan dalam hatiku eh maksudnya blog baruku ini.
Bagi yang mau melihat-lihat blog lamaku bisa banget kunjungi akihabaranime.blogspot.com. Blog yang kubuat ketika masih labil-labilnya masalah jejepangan hehe.

No comments:
Post a Comment