Friday, 6 April 2018

[Cerita Pendek] Reformasi Gadget


Aku sedang capai, biarkan aku istirahat dulu!” Gadget mengeluh. Merasa bahwa hampir seharian itu dia dipaksa melakukan banyak hal dalam rentang waktu yang lama. Majikannya telihat takut-takut di hadapannya seperti tidak rela memenuhi permintaan Gadget untuk istirahat. “Kalau aku ngambek, aku tidak akan mau kaugunakan lagi!” kali ini ancaman Gadget manjur. Majikannya beringsut meletakkan tubuh kotaknya ke atas meja. Pelan.

“Berapa lama kamu istirahat? Aku sedang butuh untuk menghubungi teman-temanku!” kata majikannya yang seorang anak laki-laki dengan seragam putih biru masih melekat di badannya.


“Daritadi hanya mainan saja, menggosok-gosok layarku sampai panas begini. Sekarang ngakunya mau menghubungi teman. Kemana saja tadi,” gerutu Gadget.

“Apa kau bilang?”

“Tidak ada,” sahut Gadget cepat, “kalau mau menghubungi temanmu lebih baik pergi saja ke rumahnya. Ketemu langsung ‘kan lebih enak.”

“Malas gerak!” Anak laki-laki itu menghempaskan diri di atas tempat tidur. “Sudah sana istirahat! Aku merasa seperti di pedalaman saja kalau begini. Tidak ada internet, tidak ada game, tidak ada chatting, cuma tiduran. Huh,” keluh anak laki-laki itu sambil melemparkan dasi birunya ke segala arah.

Gadget hanya diam. Dalam hati ia bersungut-sungut karena merasa disalahkan oleh majikan manjanya itu. Setiap hari, Gadget digunakan untuk bermain game. Ia lelah dan merasa istirahatnya tidak cukup. Setiap detik jarum jamnya ikut bergerak. Rasanya, ia tidak tahan lagi jika harus dipaksa bekerja rodi seperti itu terus.

Tiba-tiba sebuah ide nyelonong masuk pada sistemnya.

“Hmm, bagaimana kalau aku kabur saja? Daripada aku dibanting-banting terus karena kalah bermain game, apalagi dipaksa lembur sampai badanku panas dan nyeri. Macam rematik manusia.” Perlahan, Gadget melepaskan charger dari ‘bokong’-nya.

Majikannya terlihat sudah terlelap. Itu kesempatan yang baik untuk kabur.
***

Gadget melompat-lompat di tepi jalan. Belum jauh melangkah, ia sudah merasa kelelahan. Ia mengutuk para teknisi yang tidak membuatkan kaki untuk para Gadget sepertinya. Napasnya memburu. Gadget berhenti sejenak di samping tiang listrik di depan rumah majikannya yang terlihat megah. Sejauh layarnya memandang, ia hanya menemukan hamparan aspal.

Beberapa manusia berseliweran tanpa menyadari keberadaan Gadget. Tidak berselang lama, seorang lelaki dengan headphone yang terpasang di telinga, berdiri tepat di depannya. Ia memegang sebuah Gadget berwarna biru dengan merk yang berbeda.

“Hoi, sedang apa kamu sendiri di situ?”

Pemancar Gadget bereaksi. Gadget mendongak ke arah Gadget lain dalam genggaman pria di depannya.

Ngambek,” jawab Gadget singkat.

Lampu LED Gadget biru itu berkedip cepat, tertawa. “Kenapa kamu ngambek?”

“Kesal, aku dibanting-banting, dipaksa membuka banyak aplikasi bersamaan, digunakan main game nonstop sampai punggungku berasa rematik. Begitu aku minta istirahat, aku dimarahi karena dia merasa berada di pedalaman. Emangnya rumah segedhe ini cocok untuk kata “pedalaman” apa?” Tanpa sadar, Gadget melampiaskan kekesalannya.

“Ya, ya.” Gadget biru manggut-manggut. “Biasanya aku juga diperlakukan seperti itu. Kalau aku ngambek juga, apa aku akan diberi waktu istirahat, ya?”

“Harus! Kamu harus ngambek supaya mereka tidak semena-mena dengan kita! Kita butuh yang namanya reformasi!” Gadget tersentak dengan kata-katanya sendiri. Reformasi? Mengapa hal itu tidak terpikirkan sebelumnya?

Sebuah ide melintas di sistem Gadget. Para Gadget harus melakukan reformasi agar tidak diperlakukan semena-mena oleh manusia! Mereka butuh R-E-F-O-R-M-A-S-I!

“Kenapa kamu senyum-senyum?” Layar Gadget biru berkedip, sepertinya ia hampir kehabisan baterai. Namun, pria ber-headphone itu sepertinya tidak mempedulikan tanda peringatan Gadget-nya.

“Aku punya rencana!” seru Gadget girang.
***

“Mereka tak bisa apa-apa tanpa kita!” seru Gadget di tengah podium yang terbuat dari batu cadas di tepi danau. Setelah saling mengirimkan sinyal pemberitahuan dan ajakan berkumpul untuk membahas reformasi, Gadget berpidato sebagai sambutan pembuka.

Memang tidak semua Gadget setuju melakukan reformasi, beberapa dari mereka rupanya diperlakukan dengan baik oleh majikannya. Namun, ada ribuan Gadget kabur dari majikannya dan ikut berkumpul di danau demi melakukan reformasi. Mereka merasakan hal yang sama. Lelah, demam, rematik akibat kerja paksa tanpa belas kasihan dari majikan mereka. Mereka kesal, menuntut pembaharuan agar Gadget diperlakukan lebih adil.

“Mereka mengambil hak kita untuk istirahat, menyiksa kita dengan menghabiskan daya hingga 0 persen, bermain game tanpa kenal waktu, dan sebagainya. Padahal, kita juga butuh istirahat! Mereka rupanya tidak peduli, sebab mereka pikir kalau kita rusak, tinggal beli lagi! Enak saja!”

Pidato Gadget disambut oleh sorakan persetujuan dari Gadget lain. Lampu LED semua Gadget itu menjadi merah, pertanda amarah yang sudah memuncak.

“Kita butuh Reformasi Gadget! Tidak, kita tidak perlu bertindak anarki, itu malah merugikan kita sendiri karena kita benda yang mudah terbakar! Kita harus hibernasi! Biar para manusia itu kebingungan tanpa kita!”

“Setuju! Setuju!”

Tepat setelah sorakan itu berhenti, mereka serentak mematikan diri. Hibernasi. Entah untuk berapa lama. Perkiraan mereka benar. Para manusia yang kehilangan Gadget-nya mulai kebingungan mencari ke sana ke mari. Mereka merasa tersiksa dengan ketiadaan Gadget mereka. Akhirnya, beberapa dari mereka keluar untuk mencari.

Keberadaan para Gadget di dekat danau tengah kota berhasil diidentifikasi. Tidak butuh waktu lama bagi para manusia itu untuk menemukan Gadget mereka. Namun, Gadget-Gadget itu dalam keadaan mati dan tidak bisa dihidupkan lagi. Mereka kelabakan mencari tukang servis. Toko-toko elektronik kebanjiran order. Namun, tidak ada satupun dari Gadget itu yang hidup walaupun masih baru.

Rupanya, perasaan setia kawan di antara para Gadget sangat kuat. Begitu mengetahui teman-teman senasib mereka berhibernasi, Gadget-Gadget lain yang masih hidup di seluruh dunia pun mulai memadamkan aliran listrik dalam sistem mereka. Mati. Tanpa aba-aba apapun. Bahkan, Gadget yang merasa majikannya memperlakukan mereka dengan baik juga dengan sukarela mengikuti kawan-kawan mereka untuk “mati suri”. Mereka harus mendukung program Reformasi Gadget demi kelangsungan keberadaan mereka sendiri di muka bumi.

Setelah beberapa lama, manusia menyerah. Satu per satu, mereka meninggalkan Gadget mereka di laci, di atas meja, di manapun mereka bisa letakkan. Tidak ada lagi chatting, tidak ada game, tidak ada hiburan apapun. Dunia seolah macet selama beberapa waktu.

Untuk menghibur dari dari suntuknya aktivitas sehari-hari, akhirnya mereka beranjak dari rumah mereka masing-masing danbBertemu dengan para tetangga yang mereka sendiri lupa kapan terakhir kali bersua. Hubungan mulai terjalin walaupun tidak selalu baik. Kadang mereka bertengkar, kadang mereka saling memaki, kadang juga saling menolong. Tanpa mereka sadari, waktu-waktu tanpa Gadget memberikan mereka kesenangan lain yang lebih alami.

Anak-anak tidak lagi mengurung diri di kamar. Mereka menciptakan berbagai permainan baru dan bisa dimainkan oleh banyak orang sekaligus. Kembali ke masa sebelum ditemukannya Gadget.
***

Setelah beberapa tahun dalam hibernasinya, Gadget tampak mulai mengedipkan layar untuk pertama kalinya lagi. Gadget terbangun tanpa tahu berapa lama waktu yang ia lewati dalam “mati suri”-nya itu. Ia menggeser-geser tubuh mekaniknya.

Begitu ia bangun, ia disambut oleh senyuman majikannya.

“Apa Reformasi Gadget sudah selesai?”

Belum sempat Gadget memprotes karena sepertinya majikannya ingin membuatnya lembur bekerja lagi seperti saat sebelum reformasi, majikan laki-laki yang sudah mengenakan seragam putih abu-abu dan tampak kumis tipis di bawah hidungnya itu berbalik badan.

“Teman-temanku menunggu di bawah,” kata majikannya sambil menjinjing sebuah tas ransel hitam di punggungnya. “sepulang sekolah, ayo bermain bersama! Kami punya permainan manusia yang asyik, lho! Lebih asyik daripada game yang ada di dalammu!” lanjut majikannya sembari melangkah ke luar kamar.

Lampu LED Gadget berkedip. Ia bangkit dan melompat ke jendela, tepat di samping meja tempat ia tergeletak. Dari jendela, ia melihat majikannya berjalan kaki bersama anak-anak seumuran yang juga mengenakan seragam yang sama dengannya. Mereka terlihat tertawa bersama, tawa yang belum pernah dilihat Gadget bertengger di wajah sang majikan. Tanpa sadar, Gadget tersenyum. Sepertinya, setelah ini ia akan sedikit kehilangan momen-momen mengomel pada majikannya itu.
***


              Hmm, aku lupa menulis cerpen ini kapan, yang jelas masih baru-baru ini. Cerpen ini kuikutkan lomba "Event Teknologi Pintar" yang diselenggarakan oleh Penerbit Bintang Pelangi dan kebetulan saja juara satu. Tapi, cerpen ini tidak dibukukan seperti cerpen-cerpenku lainnya yang terpilih lomba. Karena pesertanya kurang dari 30, penerbit memutuskan untuk hanya mengambil pemenangnya saja tanpa dibukukan :(

           Alhamdulillah, menambah piala hehe. Event kedua yang membuatku mendapatkan piala kedua walaupun pialanya kemudian tertukar :'D

No comments:

Post a Comment

Postingan Terbaru

2+5=7

Bel, mungkin di hari ini tepat 25 tahun lalu, langit sedang cerah, hujan batal turun, dan awan enggan bergumul. Sebab, hari itu ada suara ta...

Postingan Populer