“Aku
sedang capai, biarkan aku istirahat dulu!” Gadget
mengeluh. Merasa bahwa hampir seharian itu dia dipaksa melakukan banyak hal
dalam rentang waktu yang lama. Majikannya telihat takut-takut di hadapannya
seperti tidak rela memenuhi permintaan Gadget
untuk istirahat. “Kalau aku ngambek,
aku tidak akan mau kaugunakan lagi!” kali ini ancaman Gadget manjur. Majikannya beringsut meletakkan tubuh kotaknya ke
atas meja. Pelan.
“Berapa lama kamu istirahat? Aku
sedang butuh untuk menghubungi teman-temanku!” kata majikannya yang seorang
anak laki-laki dengan seragam putih biru masih melekat di badannya.
“Daritadi hanya mainan saja,
menggosok-gosok layarku sampai panas begini. Sekarang ngakunya mau menghubungi
teman. Kemana saja tadi,” gerutu Gadget.
“Apa kau bilang?”
“Tidak ada,” sahut Gadget cepat, “kalau mau menghubungi
temanmu lebih baik pergi saja ke rumahnya. Ketemu langsung ‘kan lebih enak.”
“Malas gerak!” Anak laki-laki itu
menghempaskan diri di atas tempat tidur. “Sudah sana istirahat! Aku merasa
seperti di pedalaman saja kalau begini. Tidak ada internet, tidak ada game, tidak ada chatting, cuma tiduran. Huh,” keluh anak laki-laki itu sambil
melemparkan dasi birunya ke segala arah.
Gadget
hanya diam. Dalam hati ia bersungut-sungut karena merasa disalahkan oleh
majikan manjanya itu. Setiap hari, Gadget
digunakan untuk bermain game. Ia
lelah dan merasa istirahatnya tidak cukup. Setiap detik jarum jamnya ikut
bergerak. Rasanya, ia tidak tahan lagi jika harus dipaksa bekerja rodi seperti
itu terus.
Tiba-tiba sebuah ide nyelonong masuk
pada sistemnya.
“Hmm, bagaimana kalau aku kabur saja?
Daripada aku dibanting-banting terus karena kalah bermain game, apalagi dipaksa lembur sampai badanku panas dan nyeri. Macam
rematik manusia.” Perlahan, Gadget
melepaskan charger dari ‘bokong’-nya.
Majikannya terlihat sudah terlelap. Itu
kesempatan yang baik untuk kabur.
***
Gadget
melompat-lompat di tepi jalan. Belum jauh melangkah, ia sudah merasa kelelahan.
Ia mengutuk para teknisi yang tidak membuatkan kaki untuk para Gadget sepertinya. Napasnya memburu. Gadget berhenti sejenak di samping tiang
listrik di depan rumah majikannya yang terlihat megah. Sejauh layarnya
memandang, ia hanya menemukan hamparan aspal.
Beberapa manusia berseliweran tanpa
menyadari keberadaan Gadget. Tidak
berselang lama, seorang lelaki dengan headphone
yang terpasang di telinga, berdiri tepat di depannya. Ia memegang sebuah Gadget berwarna biru dengan merk yang
berbeda.
“Hoi, sedang apa kamu sendiri di
situ?”
Pemancar Gadget bereaksi. Gadget
mendongak ke arah Gadget lain dalam
genggaman pria di depannya.
“Ngambek,”
jawab Gadget singkat.
Lampu LED Gadget biru itu berkedip cepat, tertawa. “Kenapa kamu ngambek?”
“Kesal, aku dibanting-banting,
dipaksa membuka banyak aplikasi bersamaan, digunakan main game nonstop sampai punggungku berasa rematik. Begitu aku minta istirahat,
aku dimarahi karena dia merasa berada di pedalaman. Emangnya rumah segedhe ini
cocok untuk kata “pedalaman” apa?” Tanpa sadar, Gadget melampiaskan kekesalannya.
“Ya, ya.” Gadget biru manggut-manggut. “Biasanya aku juga diperlakukan
seperti itu. Kalau aku ngambek juga,
apa aku akan diberi waktu istirahat, ya?”
“Harus! Kamu harus ngambek supaya mereka tidak semena-mena
dengan kita! Kita butuh yang namanya reformasi!” Gadget tersentak dengan kata-katanya sendiri. Reformasi? Mengapa
hal itu tidak terpikirkan sebelumnya?
Sebuah ide melintas di sistem Gadget. Para Gadget harus melakukan reformasi agar tidak diperlakukan
semena-mena oleh manusia! Mereka butuh R-E-F-O-R-M-A-S-I!
“Kenapa kamu senyum-senyum?” Layar Gadget biru berkedip, sepertinya ia
hampir kehabisan baterai. Namun, pria ber-headphone
itu sepertinya tidak mempedulikan tanda peringatan Gadget-nya.
“Aku punya rencana!” seru Gadget girang.
***
“Mereka tak bisa apa-apa tanpa kita!”
seru Gadget di tengah podium yang
terbuat dari batu cadas di tepi danau. Setelah saling mengirimkan sinyal
pemberitahuan dan ajakan berkumpul untuk membahas reformasi, Gadget berpidato sebagai sambutan
pembuka.
Memang tidak semua Gadget setuju melakukan reformasi, beberapa
dari mereka rupanya diperlakukan dengan baik oleh majikannya. Namun, ada ribuan
Gadget kabur dari majikannya dan ikut
berkumpul di danau demi melakukan reformasi. Mereka merasakan hal yang sama.
Lelah, demam, rematik akibat kerja paksa tanpa belas kasihan dari majikan
mereka. Mereka kesal, menuntut pembaharuan agar Gadget diperlakukan lebih adil.
“Mereka mengambil hak kita untuk
istirahat, menyiksa kita dengan menghabiskan daya hingga 0 persen, bermain game tanpa kenal waktu, dan sebagainya.
Padahal, kita juga butuh istirahat! Mereka rupanya tidak peduli, sebab mereka
pikir kalau kita rusak, tinggal beli lagi! Enak saja!”
Pidato Gadget disambut oleh sorakan persetujuan dari Gadget lain. Lampu LED semua Gadget
itu menjadi merah, pertanda amarah yang sudah memuncak.
“Kita butuh Reformasi Gadget! Tidak, kita tidak perlu
bertindak anarki, itu malah merugikan kita sendiri karena kita benda yang mudah
terbakar! Kita harus hibernasi! Biar para manusia itu kebingungan tanpa kita!”
“Setuju! Setuju!”
Tepat setelah sorakan itu berhenti,
mereka serentak mematikan diri. Hibernasi. Entah untuk berapa lama. Perkiraan
mereka benar. Para manusia yang kehilangan Gadget-nya
mulai kebingungan mencari ke sana ke mari. Mereka merasa tersiksa dengan
ketiadaan Gadget mereka. Akhirnya,
beberapa dari mereka keluar untuk mencari.
Keberadaan para Gadget di dekat danau tengah kota berhasil diidentifikasi. Tidak
butuh waktu lama bagi para manusia itu untuk menemukan Gadget mereka. Namun, Gadget-Gadget itu dalam keadaan mati dan tidak
bisa dihidupkan lagi. Mereka kelabakan mencari tukang servis. Toko-toko
elektronik kebanjiran order. Namun, tidak ada satupun dari Gadget itu yang hidup walaupun masih baru.
Rupanya, perasaan setia kawan di
antara para Gadget sangat kuat.
Begitu mengetahui teman-teman senasib mereka berhibernasi, Gadget-Gadget lain yang
masih hidup di seluruh dunia pun mulai memadamkan aliran listrik dalam sistem
mereka. Mati. Tanpa aba-aba apapun. Bahkan, Gadget
yang merasa majikannya memperlakukan mereka dengan baik juga dengan sukarela
mengikuti kawan-kawan mereka untuk “mati suri”. Mereka harus mendukung program
Reformasi Gadget demi kelangsungan
keberadaan mereka sendiri di muka bumi.
Setelah beberapa lama, manusia
menyerah. Satu per satu, mereka meninggalkan Gadget mereka di laci, di atas meja, di manapun mereka bisa
letakkan. Tidak ada lagi chatting,
tidak ada game, tidak ada hiburan
apapun. Dunia seolah macet selama beberapa waktu.
Untuk menghibur dari dari suntuknya
aktivitas sehari-hari, akhirnya mereka beranjak dari rumah mereka masing-masing
danbBertemu dengan para tetangga yang mereka sendiri lupa kapan terakhir kali
bersua. Hubungan mulai terjalin walaupun tidak selalu baik. Kadang mereka
bertengkar, kadang mereka saling memaki, kadang juga saling menolong. Tanpa
mereka sadari, waktu-waktu tanpa Gadget
memberikan mereka kesenangan lain yang lebih alami.
Anak-anak tidak lagi mengurung diri
di kamar. Mereka menciptakan berbagai permainan baru dan bisa dimainkan oleh
banyak orang sekaligus. Kembali ke masa sebelum ditemukannya Gadget.
***
Setelah beberapa tahun dalam
hibernasinya, Gadget tampak mulai
mengedipkan layar untuk pertama kalinya lagi. Gadget terbangun tanpa tahu berapa lama waktu yang ia lewati dalam
“mati suri”-nya itu. Ia menggeser-geser tubuh mekaniknya.
Begitu ia bangun, ia disambut oleh
senyuman majikannya.
“Apa Reformasi Gadget sudah selesai?”
Belum sempat Gadget memprotes karena sepertinya majikannya ingin membuatnya
lembur bekerja lagi seperti saat sebelum reformasi, majikan laki-laki yang
sudah mengenakan seragam putih abu-abu dan tampak kumis tipis di bawah
hidungnya itu berbalik badan.
“Teman-temanku menunggu di bawah,”
kata majikannya sambil menjinjing sebuah tas ransel hitam di punggungnya.
“sepulang sekolah, ayo bermain bersama! Kami punya permainan manusia yang
asyik, lho! Lebih asyik daripada game
yang ada di dalammu!” lanjut majikannya sembari melangkah ke luar kamar.
Lampu LED Gadget berkedip. Ia bangkit dan melompat ke jendela, tepat di
samping meja tempat ia tergeletak. Dari jendela, ia melihat majikannya berjalan
kaki bersama anak-anak seumuran yang juga mengenakan seragam yang sama
dengannya. Mereka terlihat tertawa bersama, tawa yang belum pernah dilihat Gadget bertengger di wajah sang majikan.
Tanpa sadar, Gadget tersenyum.
Sepertinya, setelah ini ia akan sedikit kehilangan momen-momen mengomel pada
majikannya itu.
***
Hmm, aku lupa menulis cerpen ini kapan, yang jelas masih baru-baru ini. Cerpen ini kuikutkan lomba "Event Teknologi Pintar" yang diselenggarakan oleh Penerbit Bintang Pelangi dan kebetulan saja juara satu. Tapi, cerpen ini tidak dibukukan seperti cerpen-cerpenku lainnya yang terpilih lomba. Karena pesertanya kurang dari 30, penerbit memutuskan untuk hanya mengambil pemenangnya saja tanpa dibukukan :(
Alhamdulillah, menambah piala hehe. Event kedua yang membuatku mendapatkan piala kedua walaupun pialanya kemudian tertukar :'D

No comments:
Post a Comment