Biar
kugeluti naskah-naskah rindu
Rindu
yang buntu
“Rindu yang buntu?”
Bahu
Canisa terangkat, kaget. Cepat-cepat ditutupnya buku catatan kecil yang selalu
dibawa kemanapun ia menjejakkan langkah. Canisa melirik Adit sekilas. Adit
tergelak, ia tahu Canisa paling tidak suka jika buku catatannya dibaca oleh
siapapun, apalagi dirinya yang baru mengenal Canisa tiga bulan belakangan.
Adit
mengulurkan satu botol minuman dingin pada Canisa yang sedang duduk menikmati Telaga
Sarangan. Sengaja ia menyerahkannya dalam posisi berdiri, iseng agar Canisa
mendongak ke atas—ke arahnya—meskipun ia sendiri tahu Canisa takkan pernah
mendongak. Canisa berdiri setelah sebelumnya mengembuskan napas kesal atas
keisengan Adit.


