Saturday, 19 May 2018

[Cerita Pendek] Angkasa di Telaga Sarangan

Biar kugeluti naskah-naskah rindu
Rindu yang buntu

“Rindu yang buntu?”


Bahu Canisa terangkat, kaget. Cepat-cepat ditutupnya buku catatan kecil yang selalu dibawa kemanapun ia menjejakkan langkah. Canisa melirik Adit sekilas. Adit tergelak, ia tahu Canisa paling tidak suka jika buku catatannya dibaca oleh siapapun, apalagi dirinya yang baru mengenal Canisa tiga bulan belakangan.

Adit mengulurkan satu botol minuman dingin pada Canisa yang sedang duduk menikmati Telaga Sarangan. Sengaja ia menyerahkannya dalam posisi berdiri, iseng agar Canisa mendongak ke atas—ke arahnya—meskipun ia sendiri tahu Canisa takkan pernah mendongak. Canisa berdiri setelah sebelumnya mengembuskan napas kesal atas keisengan Adit.

[Cerita Pendek] Handphone dari Masa Depan


Aku tertegun. Menatap lekat benda yang kini singgah dalam genggaman. Sebuah telepon genggam. Bukan, ini bukan zaman purba yang asing pada handphone, atau daerah tak mengenal teknologi seperti Suku Baduy. Saat ini, tepat mengoleskan angka tahun 2020, teknologi bukan lagi hal yang asing, tapi handphone yang lebarnya pas digenggam remaja berusia 16 tahun sepertiku ini bahkan baru direncanakan untuk dibuat.

Aku mengedarkan pandang. Hanya ada laut, lain tidak. Suara debur ombak yang menghantam karang sibuk menyusup ke telinga. Aku terperanjat ketika handphone itu berbunyi, gelagapan kutatap layar handphone.

[Cerita Pendek] Kertas-Kertas Daffodil


Till death do us part,” gadis itu mengatakannya dengan fasih, seakan ia telah mengucapkannya setiap hari. “Ibu yang memberitahuku setiap waktu.” Lanjutnya. Aku tertegun menatap mata teh itu, ada kemarahan dan keputusasaan yang menelurkan butir bening dari sana.

“Siapa namamu?” hanya itu yang sempat melewati tenggorokanku. Terucap tanpa permisi, bingung tanggapi tangisnya.

Postingan Terbaru

2+5=7

Bel, mungkin di hari ini tepat 25 tahun lalu, langit sedang cerah, hujan batal turun, dan awan enggan bergumul. Sebab, hari itu ada suara ta...

Postingan Populer