“Minggir, Anak cacat! Kursi rodamu
menghalangi jalan!”
Aku terkesiap. Bukan karena ia menyeruku
dengan panggilan ‘anak cacat’, tapi karena rintik gerimis sempat membawa
bayangku mengawang. Kutepikan kursi rodaku sedikit, tak acuh ketika gerimis
hujan menyemai basah pada seragam putih abu-abuku. Arya melengos begitu mata
kami sempat bertautan, ia melangkah cepat diikuti dua sahabat kental yang
selalu mengikutinya kemana saja.


