Judul : Pulang
Penulis : Tere Liye
Penerbit : Republika
Tebal : 400 hlm.
Cetakan : II, Oktober 2015
ISBN : 978-602-0822-12-9
Aku tahu sekarang, lebih banyak luka di hati bapakku disbanding di tubuhnya. Juga mamakku, lebih banyak tangis di hati Mamak disbanding di matanya.
Sebuah kisah tentang perjalanan pulang melalui pertarungan demi pertarungan, untuk memeluk erat semua kebencian dan rasa sakit.
Pulang, apa definisi yang paling tepat untuk kata itu? Lupakan KBBI, sebab definisi pulang untuk setiap orang berbeda.
Namun, akan selalu ada satu tempat yang sama di mana kita akan bermuara. Satu tempat yang tidak bisa tidak kita singgahi untuk “pulang”.
***
“Ingat, Bujang. Jika kau tidak membunuh mereka lebih dulu, maka mereka akan membunuhmu lebih awal. Pertempuran adalah pertempuran. Tidak ada ampun. Jangan ragu walau sehelai benang.” [Guru Bushi, hlm. 153]
Bujang adalah seorang anak berusia 15 tahun yang hidup di rimba Sumatera
bersama Mamak dan Bapaknya. Bapaknya mantan tukang pukul Keluarga Tong,
keluarga keturunan Tiongkok yang melebarkan sayap bisnisnya ke berbagai sektor.
Sayangnya, bisnis Keluarga Tong berkecambah di pasar gelap. Kakek Bujang adalah
jagal paling ditakuti di Asia: bisikkan namanya maka orang-orang akan berlarian
masuk ke rumah dengan ketakutan.
Di desa, Bujang tak diizinkan menyentuh segala hal berbau agama, atau dia
akan dihajar habis-habisan oleh Bapaknya. Sebab itu dengan senang hati ia pergi
dari rumahnya ketika Tauke Besar, pimpinan Keluarga Tong, membawanya sesuai
janji bapaknya ketika pergi meninggalkan Keluarga Tong beberapa tahun lalu.
Judul yang sesederhana “Pulang” bisa menjadi sebuah rangkaian cerita yang
rumit. Mengenai masa lalu, masa kini, dan masa depan si Bujang. Bukan, tokoh
utamanya bukan orang baik, bahkan acap kali terlibat dalam kasus suap,
pembunuhan, pertikaian, intimidasi, dan berbagai kasus kriminal lainnya.
Tidak hanya cerita, banyak budaya yang turut disajikan dari berbagai
negara untuk menghiasi isi novel. Jika kalian tidak tahu Samurai, Katana,
sangat mudah mencerna semua istilah itu dengan pengertian yang benar dalam
novel ini. Jika kalian tidak tahu cara pasar gelap dunia menjalankan berbagai
aksinya dan memengaruhi sebagian besar ekonomi dunia, novel ini bisa dengan
mudah menuntun kalian melihat dari sisi yang berbeda dengan bahasa paling
sederhana.
Novel ini dipenuhi dengan aksi-aksi seru pertarungan memperebutkan
kehormatan dan kekuasaan Keluarga Tong. Dilihat dari sisi peranan, Keluarga
Tong adalah tokoh “protagonis” cerita yang memerankan berbagai tindak kejahatan
dan kelicikan demi mengembangkan bisnisnya.
Novel-novel Tere Liye selalu menggunakan Bahasa yang ringan dan mudah
dicerna. Dari segi riset, tentu tidak ada cacat dalam novel ini di setiap segi
pembahasan dan alurnya yang campuran. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang
sangat kuat dan mudah diingat, serta masih terngiang-ngiang di kepala walaupun
buku telah lama ditutup.
- Kekurangan
Ada sisi agama yang sentimental dalam novel ini sehingga pembaca yang
bukan muslim, mungkin sebagian akan kebingungan memaknai ceritanya. Meskipun
begitu, pembahasan agama bukanlah inti dari cerita ini. Jadi, tidak akan
terlalu bermasalah sekalipun dibaca oleh non muslim.
- Kesimpulan
Tulisan-tulisan Tere Liye selalu memiliki kelebihan yang membuatku
terlena, selalu mengasyikkan dan mendebarkan di setiap pertarungan yang
disajikan. Rincian kata demi kata bisa membuat pembaca seolah-olah sedang
menyaksikan film action dengan mata
kepala sendiri. Ditambah lagi, tidak hanya sekedar cerita, pesan moral yang
ingin disampaikan penulis pun diutarakan dengan lugas. Membuat novel ini cocok
dibaca oleh semua umur. Dan bagi pembaca yang haus dengan novel berbau aksi, novel
ini akan sangat pas dan memenuhi ekspektasi itu.
“Seperti yang kubilang tadi, hidup ini adalah perjalanan panjang, Agam. Kumpulan dari hari-hari. Di salah satu hari itu, di hari yang sangat special, kita dilahirkan. Kita menangis kencang saat menghidup udara pertama kali. Di salah satu hari lainnya, kita belajar tengkurap, belajar merangkak, untuk kemudian berjalan.
Di salah satu hari berikutnya kita bisa mengendarai sepeda, masuk sekolah pertama kali, semua serba pertama kali. Dan kini kita penuh dengan kenangan masa kecil yang indah, seperti matahari terbit.
Lantas hari-hari melesat cepat. Siang beranjak datang dan kita tumbuh menjadi dewasa, besar. Mulai menemui pahit kehidupan. Maka, di salah satu hari itu, kita tiba-tiba tergugu sedih karena kegagalan atau kehilangan. Di salah satu hari berikutnya, kita tertikam sesak, tersungkur terluka, berharap hari segera berlalu.
Hari-hari buruk mulai datang. Dan kita tidak akan pernah tahu kapan dia akan tiba mengetuk pintu. Kemarin kita masih tertawa, untuk besok lusa tergugu menangis. Kemarin kita masih berbahagia dengan banyak hal, untuk besok lusa terjatuh, dipukul telak oleh kehidupan. Hari-hari menyakitkan.” [Tuanku Imam, hlm. 337]
Salam Literasi!

No comments:
Post a Comment